Tugas Guru dalam Presfektif Ibnu Qudamah

Gambar diambil dari Google
Proses penanaman akidah Islam bagi generasi muda harus tetap berlanjut dalam upaya pembangunan karakter bangsa. Keterlibatan guru sekolah dalam proses penanaman akidah tersebut menjadi sangat penting mengingat salah satu peran guru adalah mencerdaskan kehidupan bangsa yang sesuai dengan ajaran Islam. Sebab, bagi seorang muslim akidah merupakan hal yang sangat berharga dalam hidupnya.

Untuk menjalankan peran tersebut tentu seorang guru membutuhkan rambu-rambu syariat yang dijadikan acuan dalam menjalankan tugasnya. Salah satu ulama yang menjelaskan tugas pokok seorang guru adalah Ibnu Qudamah. Ia adalah seorang imam, ahli fiqih dan zuhud, yang memiliki nama lengkap Asy Syaikh Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hanbali al-Almaqdisi.

Ia menegaskan dalam kitabnya “Mukhtashar Minhajul Qashidin” hal 30-31 berkenaan dengan tugas pokok seorang guru sebagai berikut,

من ذلك الشفقة على المتعلمين، وأن يجريهم مجرى بنيه، ولا يطلب على إفاضة العلم أجرا، ولا يقصد به جزاءا ولا شكرا، بل يعلم لوجه الله تعالى، ولا يرى لنفسه منة على المتعلمين، بل يرى الفضل لهم إذ هيؤوا قلوبهم للتقرب إلى الله تعالى بزارعة العلم فيها، فهم كالذي يعير الأرض لمن يزرع فيها.

Guru mempunyai beberapa tugas, diantaranya : Menyayangi, menuntunnya seperti menuntun anak sendiri, tidak meminta imbalan uang, tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih, dia harus mengajarkan ilmu karena mengharap ridho Allah, tidak melihat dirinya lebih hebat dari murid-muridnya, tetapi dia mau melihat bahwa adakalanya mereka lebih utama jika mempersiapkan hatinya untuk bertaqarrub kepada Allah dengan cara menanam ilmu di dalam hatinya, harus melihat bahwa murid adalah seperti sepetak tanah yang siap ditanami.

 فلا ينبغي أن يطلب المعلم الأجر إلا من الله تعالى. وقد كان السلف يمتنعون من قبول هدية المتعلم. ومنها أن لا يدخر من نصح المتعلم شيئا، وأن يزجره عن سوء الأخلاق بطريق التعريض مهما أمكن، لا على وجه التوبيخ، فإن التوبيخ يهتك حجاب الهيبة.

Tidak selayaknya bagi guru untuk meminta balasan kecuali dari Allah semata. Bahkan orang-orang salaf menolak jika ada murid yang memberinya hadiah. Guru tidak boleh menyimpan nasihat yang seharusnya diberikan kepada murid walau sedikitpun, harus memperingatkannya dari akhlak yang buruk dengan cara yang sehalus-halusnya, dan tidak boleh mencaci-makinya, karena caci-maki itu justru akan mengurangi kemuliaan dirinya.

ومنها: أن ينظر في فهم المتعلم ومقدار عقله، فلا يلقي إليه ما لا يدركه فهمه ولا يحيط به عقله.

Guru harus mengetahui tingkat pemahaman murid dan kapasitas dirinya, tidak boleh menyampaikan pelajaran di luar kesanggupan akalnya.

فقد روي عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنه قال: “أمرت أن أخاطب الناس على قدر عقولهم”

Diriwayatkan dari Nabi Saw., beliau bersabda : “aku diperintahkan untuk berbicara dengan manusia menurut kadar pemikiran pemikiran mereka.”

وقال علي رضي الله عنه: إن هاهنا علما لو وجدت له حملته
Ali bin Abu Thalib ra. Berkata, “Sesungguhnya di sini ada ilmu. Jika aku beruntung mendapatkannya, tentu aku akan membawa.”

وقال الشافعي رحمه الله: أأنثر درا بين سارحة النعم أأنظم منثورا لراعية الغنم  #  ومن منح الجهال علما أضاعه ومن منع المستوجبين فقد ظلم

Asy-Syafi’i rahimahullah berkatta, “Apakah aku harus menebar mutiara di tempat penggembalaan binatang, dan menata apa yang sudah ditebar bagi pengembala? Siapa yang menyampaikan ilmu kepada orang-orang bodoh, maka akan menyia-nyiakan ilmu itu, dan siapa yang tidak menyampaikan kepada orang yang layak menerimanya, maka dia telah berbuat zhalim.

ومنها: أن يكون المعلم عاملا بعلمه. ولا يكذب قوله فعله. قال الله تعالى: أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم وأنتم تتلون الكتاب
Guru harus berbuat sesuai dengan ilmunya, tidak mendustakan antara perkataan dan perbuatan. Allah Ta’ala berfirman : “Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab ?” [QS. Al-Baqarah : 44]
وقال علي رضي الله عنه: قصم ظهري رجلان: عالم متهتك، وجاهل متنسك.

Ali bin Abu Thalib ra. Berkata, “Punggungku terbelah gara-gara dua orang, yaitu orang berilmu yang terbuka aibnya dan orang bodoh yang menjadi ahli ibadah.

Demikianlah pandangan Ibnu Qudamah terkait dengan tugas seorang guru. Meskipun menjadi seorang guru itu bukanlah hal yang mudah dan ringan namun kita patut bersyukur karena kita diberi amanah yang mulia oleh Allah Swt. Semoga dari uraian singkat di atas dapat menjadi bahan renungan sekaligus motivasi bagi kita semua agar senantiasa menjadi seorang guru yang ikhlas dan bekerja sesuai dengan tuntunan agama Islam agar Allah menyediakan surga di akhirat kelak. aamiin,

* * *
Oleh : Hilman Ramadhan F



Komentar