Sebab-sebab Kemajuan dan Kemunduran Sains di Dunia Islam [1]


Bagi sebagian orang sejak beberapa abad terakhir ini paham sekularisme dan gerakan sekularisasi dianggap sebagai penyebab dari kemajuan sains dan teknologi di dunia Barat (Eropa dan Amerika). Asumsi ini memang ada benarnya, mengingat hubungan yang tidak harmonis selama berabad-abad antara dogmatisme Gereja dan rasionalisme para saintis di Eropa. Seiring berjalannya waktu ketegangan dan konflik antara keduanya semakin sengit, sehingga tidak jarang satu pihak berusaha menjatuhkan dan bahkan menindas yang lain. Hal ini bisa kita lihat adanya praktek-praktek seperti ex-komunikasi, kondemnasi, persekusi, immurasi, inkuisisi, dan eksekusi. Tidak sedikit para saintis yang dikucilkan, dikutuk, duburu, dikurung, diinterogasi, dan dijatuhi hukuman mati. Perlakuan buruk yang dialami Giordino Bruno, Galileo Galilei, dan Baruch Spinoza –untuk menyebut beberapa contoh saja– merupakan ‘lembaran hitam’ dalam sejarah sains di Barat.

Yang keliru dalam hal ini adalah ketika asumsi di atas diterima dan digeneralisir secara mentah-mentah, dijadikan cermin dan dipakai untuk membaca sejarah perkembangan, kemajuan dan kemunduran peradaban Islam; seolah-olah kasus yang sama juga terjadi di dunia Islam, seolah-olah sains juga mengalami nasib yang sama malangnya dalam sejarah keilmuan Islam. Lebih keliru lagi ketika asumsi tersebut di konversi menjadi tesis, lalu digunakan sebagai landasan prediksi dan strategi membangun kembali pemikiran dan peradaban Islam kini; bahwa kemunduran sains di dunia Islam disebabkan oleh orthotodksi, bahwa kebangkitan dan kemajuan sains di dunia Islam hanya dapat terwujud jika kaum Muslim mau mengikuti dan meniru bangsa-bangsa Barat; yakni dengan menganut sekularisme dan mempraktekkan sekularisasi.

Awal kemajuan dan perkembangan sains di dunia Islam tidak dipisahkan dari sejarah ekspansi Islam itu sendiri. Dalam tempo 25 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad saw (632 Masehi), umat Islam telah berhasil menaklukkan seluruh jazirah Arabia dari selatan hingga utara. Pelebaran sayap dakwah Islam ini tentu bukan tanpa konsekuensi. Seiring dengan terjadinya konversi massal dari agama asal atau kepercayaan lokal ke dalam Islam, terjadi pula penyerapan terhadap tradisi budaya peradaban setempat. Proses interaksi yang terjadi secara alami ini adalah cikal bakal “Islamisasi”, dimana unsur-unsur dan nilai-nilai masyarakat lokal ditampung, ditampih dan disaring terlebih dahulu sebelum kemudian diserap. Hal yang positif dan sejalan dengan Islam dipertahankan, dilestarikan, dan dikembangkan, sementara yang tidak sesuai dengan kerangka dasar ajaran Islam ditolak dan dibuang. 

Faktor-faktor yang telah memungkinkan dan mendorong kemajuan sains di dunia Islam pada saat itu antara lain sebagai berikut.

1.     Kemurnian dan keteguhan dalam mengimani, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam. Keimanan yang teguh, pemahaman yang memadai, dan kesungguhan dalam mempraktikan ajaran Islam sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an dan Sunnah itu telah berhasil melahirkan individu-individu ‘siap tempur’ yang unggul secara mental maupun moralnya, dan pada gilirannya membentuk masyarakat madani yang Islami. Terbukti dalam rentang waktu yang cukup singkat, mereka berjaya membangun sebuah peradaban yang gemilang.

2.     Adanya motivasi agama. Sebagaimana kita ketahui, kitab suci Al-Qur’an banyak berisi anjuran untuk menuntut ilmu, perintah agar kita membaca (iqra’), melakukan observasi (a-fal­a yarawna), eksplorasi (a-fala yanzuruna) dan ekpedisi (suri fi l-ardi), melakukan ‘inference to the best explanation’[2] serta berfikir ilmiah rasional (li-qawmin ya’qilun, yatafakarun). Pendek kata, pesan-pesan senada yang intinya mengecam sikap dogmatis atau ‘asal terima’. Begitu gencaranya ayat-ayat ini didengungkan, sehingga belajar atau mencari ilmu pengetahuan diyakini sebagai kewajiban (faridah) atas setiap individu Muslim, dengan implikasi berdosalah mereka yang tidak melakukannya. Pada tataran praktis doktrin ini membawa dampak yang sangat positif. Ia mendorong dan mempercepat terciptanya masyarakat ilmu (knowledge society) dan budaya ilmu (knowledge culture)-dua perkara penting yang bertanggung-jawab melahirkan peradaban Islam. Perlu diingat bahwa dalam Islam pentingnya ilmu dan perhatian yang serius dalam pencarian berbagai cabang ilmu adalah dalam rangka usaha meraih kebahagiaan sejati (dunia dan akhirat), dan bukan sekedar memenuhi kebutuhan sosial ekonomi saja.

3.     Faktor sosial politik. Tumbuh dan berkembangnya budaya ilmu dan tradisi ilmiah pada masa itu dimungkinkan antara lain oleh kondisi masyarakat Islam yang, meskipun terdiri dari bermacam-macam etnis (Arab, Parsi, Koptik, Berber, Turki, dan lain), dengan latarbelakang bahasa dan budaya masing-masing, namun berhasil diikat oleh tali akidah Islam. Dengan demikian terwujudlah stabilitas, keamanan dan persatuan. Para pencari ilmu maupun cendikiawan dengan leluasa dan aman bepergian dan merantau ke pusat-pusat pendidikan dan keilmuan.

4.     Dukungan dan perlindungan politis dari penguasa saat itu. Hal ini cukup menentukan mengingat implikasi finansial serta sosialnya. Itulah sebabnya para saintis seperti Ibnu Sina, Ibnu Tufayl, Nasiruddin at-Tusi dan lain-lain berpindah dari suatu tempat ke tempat, mengikuti patron-nya.

            Secara umum, faktor-faktor yang dikatan menjadi penyebab kemunduran dan kematian sains di dunia Islam dapt dikelompokkan menjadi dua, internal dan eksternal, yang masing-masing harus diteliti lagi sehingga dapat dibedakan mana yang faktual dan mana yang mitikal, mana yang berbasis data dan mana yang Cuma berdasarkan spekulasi belaka.

1.     Profesor Sabra. Aktivitas saintifik mengalami reduksi karena lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis. Sains menyempit wilayah dan perannya menjadi sekedar pelayan agama (handmaiden of religion).
2.     David C. Lindberg. (1) opisisi kamu konservatif[3], (2) krisis ekonomi dan politik, serta (3) keterasingan dan keterpinggiran sebagai tiga faktor utama yang bertanggung jawab atas kemunduran sains di dunia Islam.

PENUTUP
            Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemajuan atau kemunduran sains dipengaruhi oleh dan tergantung pada banyak faktor internal maupun eksternal. Sebagai aktivitas nyata, ‘scientific enterprise’ mencerminkan nilai-nilai (epistemologi etc) yang dianut dan diamalkan oleh para pelakunya. Kaum Muslim dapat meraih kembali kejayaannya jika mereka mau belajar dari sejarah agar tidak terjatuh ke jurang kegelapan berkali-kali.


[1] Sebuah rangkuman dari tulisan Dr. Syamsuddin Arief yang berjudul Sains Di Dunia Islam : Fakta Historis-Sosiologis dalam buku Islamic Science : Paradigma, Fakta, dan Agenda, Insist tahun 2016.
[2] dalam istilah filsafat sains kontemporer
[3] Jika para saintis dan filosof dahulu itu dikecam dan dikucilkan, hal itu disebabkan oleh sikap dan perilaku mereka sendiri. Pada puncak kemajuan dan kemakmurannya, banyak sekali diantara mereka yang secara diam-diam telah murtad dan kufur terhadap ajaran Islam. Trend yang berlaku saat itu adalah free-thinking alias liberasme. Anda bukan intelektual jika tidak ekstrentik, liberal dan sekular.

Komentar